Perkembangan Pergerakan Budi Utomo dan Sarikat Islam

Perkembangan Pergerakan Budi Utomo dan Sarikat Islam – Semakin banyak nya putera indonesia yang mengecap dunia pendidikan dan dibarengi dengan munculnya rasa nasionalisme di Asia, hal ini juga memicu bangkit dan berkembangnya rasa nasionalisme putera-putera bangsa. 

Pergerakan nasional ditandai oleh adanya organisasi yang sudah didukung dan didirikan oleh segenap rakyat di Nusantara. Ciri organisasi pergerakan nasional berbeda dengan pergerakan daerah, hal ini dapat kita bedakan sebagai berikut.

1. Gerakan daerah bercirikan sebagai berikut.

a. Bentuk gerakannya belum diorganisasi, maka menggantungkan kepada pemimpin.
b. Sifatnya kedaerahan, maka bersifat insidental sementara.
c. Mengandalkan kekuatan senjata dan kekuatan gaib.
d. Belum ada tujuan yang jelas.
e. Gerakannya mudah bubar atau berakhir jika pemimpin mereka tertangkap.

http://www.sibarasok.net/2013/11/perkembangan-pergerakan-budi-utomo-dan.html2. Gerakan nasional bercirikan sebagai berikut.

a. Gerakannya sudah diorganisasi secara teratur.
b. Bersifat nasional baik wilayah atau cita-cita kebangsaan.
c. Perjuangan menggunakan taktik modern dan organisasi modern.
d. Sudah memiliki tujuan yang jelas yaitu Indonesia merdeka.
e. Gerakannya tangguh dan berakar di hati rakyat.

1. Budi Utomo (20 Mei 1908)

Untuk membangkitkan jiwa kebangsaan dan rasa harga diri yang kuat terhadap seluruh lapisan masyarakat di Indonesia, kaum terpelajar yang dipelopori oleh dr. Wahidin Sudirohusodo dan (pemuda) Sutomo mulai menggerakkan para pemuda dan pelajar Indonesia untuk membentuk organisasi yang akan bergerak dalam bidang sosial, budaya, ekonomi, dan politik. 

Pada tahun 1906, kaum terpelajar tersebut mulai terjun ke daerah-daerah untuk mencari dukungan moral dan material dari kaum bangsawan, para pegawai, dan dermawan agar bersedia secara aktif membantu usaha dalam memperbaiki nasib bangsanya. Dalam ceramahnya di depan para pelajar STOVIA, dr. Wahidin Sudirohusudo melontarkan keinginannya untuk mendirikan badan pendidikan yang disebut studie fonds. Ajakan tersebut mendapat sambutan hangat dari seluruh pelajar. Salah seorang pelajar STOVIA yang bernama Sutomo segera menghubungi kawan-kawannya untuk mendiskusikan mengenai nasib bangsanya. 

Pada hari Minggu, tanggal 20 Mei 1908 Sutomo dan kawan-kawannya di ruang kelas Sekolah Kedokteran STOVIA di Batavia atau Jakarta mendirikan sebuah perkumpulan yang diberi nama Budi Utomo (Budi Luhur). Para pelajar yang aktif dalam pembentukan Budi Utomo tersebut adalah M. Suradji, Muhammad Saleh, Mas Suwarno, Muhammad Sulaiman, Gunawan, dan Gumbreg. 

Pada akhir pidatonya, Sutomo mengatakan, “berhasil dan tidaknya usaha ini bergantung kepada kesungguhan hati kita, bergantung kepada kesanggupan kita bekerja. Saya yakin bahwa nasib Tanah Air di masa depan terletak di tangan kita.” Ucapan itu disambut dengan tepuk tangan yang amat meriah. Budi Utomo setelah terbentuk, para pengurus dan anggotanya segera mempropagandakan mengenai maksud dan tujuan pembentukan organisasi tersebut kepada semua masyarakat, terutama kelompok pelajar, pegawai, kaum priayi, dan pedagang kecil. Propaganda itu ternyata mendapat sambutan hangat.

Berita tentang pembentukan Budi Utomo akhirnya tersiar juga lewat surat kabar sehingga diketahui oleh pelajar-pelajar di berbagai kota. Akhirnya, para pelajar di kota-kota, seperti Yogyakarta, Magelang, dan Probolinggo ikut mendirikan cabang-cabang Budi Utomo. Nama Sutomo sebagai pendiri dan ketua umum Budi Utomo makin populer sekaligus mengundang risiko besar.

Beberapa staf pengajar dan pemerintah Belanda menuduh Sutomo dan kawan-kawannya sebagai pemberontak. Sutomo diancam akan dipecat dari sekolahnya. Akan tetapi, kawan-kawannya mempunyai solidaritas tinggi. Jika Sutomo dikeluarkan, mereka akan ikut keluar juga. Dalam persidangan di sekolah, Sutomo masih dipertahankan oleh pemimpin umum STOVIA, Dr. H.E. Roll sehingga ia dan kawan-kawannya tidak jadi dikeluarkan dari sekolah. Jelaslah bahwa setiap perjuangan pasti mendapat tantangan, rintangan, bahkan ancaman, tetapi mereka tetap tegar.

Budi Utomo berkembang makin besar sehingga perlu menyelenggarakan kongres. Untuk keperluan itu, mereka mempersiapkan segala sesuatunya atas usaha sendiri. Dr. Wahidin berkampanye keliling daerah untuk mendapatkan dukungan dan bantuan dari semua pihak. Kongres Budi Utomo yang pertama berhasil diselenggarakan pada tanggal 5 Oktober 1908 di Yogyakarta. Dalam kongres dihasilkan beberapa keputusan penting, seperti:

1) merumuskan tujuan utama Budi Utomo, yaitu kemajuan yang selaras untuk negara dan bangsa, terutama dengan memajukan pengajaran, pertanian, peternakan, perdagangan, teknik dan industri, ilmu pengetahuan dan seni budaya bangsa Indonesia;
2) kedudukan pusat perkumpulan berada di Yogyakarta;
3) menyusun kepengurusan dengan Ketua R.T. Tirtokusumo, Bupati Karanganyar (Jawa Tengah);
4) kegiatan Budi Utomo terutama ditujukan pada bidang pendidikan dan kebudayaan
5) wilayah gerakannya difokuskan di Jawa dan Madura
6) BU tidak ikut mengadakan kegiatan politik.

Penyerahan pimpinan pusat organisasi oleh Sutomo kepada kaum tua tersebut mempunyai tujuan strategis berikut:

1) menghargai kaum tua yang lebih berpengalaman;
2) mengajak kaum tua untuk ikut memikirkan dan memajukan pendidikan rakyat lewat Budi Utomo;
3) Sutomo dan kawan-kawannya masih harus menyelesaikan pendidikannya lebih dahulu di STOVIA, Jakarta. 

Pada tahun awal berkembangnya Budi Utomo dapat menjadi tempat penyaluran keinginan rakyat yang ingin maju dan tempat mengabdi tokoh-tokoh terkemuka terhadap bangsanya. Tokoh-tokoh yang pernah menjabat Ketua Budi Utomo, antara lain R.T. Tirtokusumo (1908–1911), Pangeran Aryo Noto Dirodjo dari Istana Paku Alam (1911–1914), R.Ng. Wedyodipura atau Radjiman Wedyoningrat (1914–1915), dan R.M. Ario Surjo Suparto atau Mangkunegoro VII (1915). Oleh karena pemimpin Budi Utomo umumnya berasal dari kaum bangsawan, banyaklah dana yang disumbangkan untuk kemajuan pengajaran. Dengan demikian, lahirlah badan bantuan pendidikan atau studiefonds yang diberi nama Darma Wara. Hal inilah yang dicita-citakan oleh dr. Wahidin.

Sejak tahun 1908 hingga tahun 1915, Budi Utomo hanya bergerak di bidang sosial dan budaya terutama pada bagian pengajaran. Namun, setelah tahun 1925 itu Budi Utomo ikut terjun ke dunia politik. Perubahan haluan ini terjadi karena adanya pengaruh dari organisasi pergerakan lain yang bercorak politik, seperti Indische Partij dan Sarekat Islam. Tujuan Budi Utomo berpolitik adalah untuk mendapat bagian dalam pemerintahan yang akan dipegang oleh golongan pelajar pribumi. 

Kegiatan Budi Utomo dalam bidang politik, antara lain sebagai berikut.

1) Budi Utomo ikut duduk dalam komite Indie Weerbaar yang dikirim ke Negeri Belanda untuk membahas pertahanan Hindia Belanda pada tahun 1916–1917.
2) Budi Utomo juga mengusulkan pembentukan Volksraad (Dewan Rakyat) bagi penduduk pribumi, ketika wakilnya dalam Comite Indie Weerbaar (Panitia Ketahanan Hindia Belanda) berangkat ke Negeri Belanda.
3) Budi Utomo berpartisipasi dalam pembentukan Komite Nasional untuk menghadapi pemilihan anggota Volksraad.
4) Budi Utomo berpartisipasi aktif sebagai anggota Volksraad, bahkan menempati dua dalam hal jumlah anggota di antara anggota pribumi.
5) Budi Utomo mencanangkan program politiknya berupa keinginan mewujudkan pemerintahan parlementer yang berasas kebangsaan.
6) Pada tahun 1927, Budi Utomo memprakarsai dan bergabung dalam Permufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI) .
7) Dokter Sutomo banyak mendirikan studieclub yang dalam praktiknya juga dapat membahas soal-soal politik. Pada tahun 1935 Indonesisch Studie Club di Surabaya bergabung dengan Sarekat Madura menjadi Persatuan Bangsa Indonesia (PBI), kemudian PBI digabung dengan Budi Utomo menjadi Partai Indonesia Raya (Parindra).

Budi Utomo dalam bidang politik meskipun kalah progresif jika dibandingkan dengan Sarekat Islam, Indische Partij, dan PNI, tetaplah sebagai pembuka jalan dan pelopor Pergerakan Nasional Indonesia. Karena peranan dan jasanya yang besar itulah, tanggal kelahiran Budi Utomo, 20 Mei, ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Nasional dan diperingati setiap tahun oleh bangsa Indonesia.

2. Sarekat Islam

Pada tahun 1911 di Laweyan, Solo berdiri organisasi Sarekat Dagang Islam (SDI) dengan ketua Haji Samanhudi. Keinginan untuk menyaingi pedagang-pedagang Cina mendorong banyak orang ingin menjadi anggota Sarekat Dagang Islam. Tujuan Sarekat Dagang Islam semula adalah memajukan perdagangan untuk menyaingi pedagang-pedagang Cina. Namun pada akhirnya, selain memajukan perdagangan, Sarekat Dagang Islam juga ingin memajukan agama Islam. 

Oleh karena itu, atas anjuran H.O.S. Cokroaminoto, nama Sarekat Dagang Islam diubah menjadi Sarekat Islam pada tahun 1912. Sarekat Islam mempunyai beberapa tujuan, yaitu mengembangkan jiwa dagang, membantu para anggota yang mengalami kesulitan dalam usaha meningkatkan derajat, memperbaiki pendapat yang keliru mengenai agama Islam, hidup menurut perintah agama.

Pada tahun 1913, Sarekat Islam menyelenggarakan kongres pertama di Surabaya dan menghasilkan beberapa keputusan, yaitu Sarekat Islam bukan partai politik, Sarekat Islam tidak bermaksud melawan Belanda, memilih HOS Cokroaminoto sebagai ketua Sarekat Islam, dan menetapkan Surabaya sebagai pusat Sarekat Islam.

Pernyataan demikian itu, sebenarnya hanyalah di atas kertas saja dengan maksud agar tidak dicurigai oleh pemerintah kolonial Belanda. Pada praktiknya, Sarekat Islam sering membahas masalah-masalah politik, memperjuangkan nasib rakyat, mendesak pemerintah agar dibentuk volksraad, dan menyebarluaskan cita-cita mencapai pemerintahan sendiri. Tentu saja hal itu menyebabkan aktivitas Sarekat Islam selalu diawasi secara ketat oleh pemerintah kolonial Belanda. 

Sarekat Islam tetap tegar dan terus maju pantang mundur sebab Sarekat Islam dipimpin oleh orang-orang yang berjiwa merdeka dan sangat militan, seperti H.O.S Cokroaminoto, H. Agus Salim, H. Samanhudi, Abdul Muis, H. Gunawan, Wondoamiseno, Sosrokardono, dan Suryopranoto. Mereka juga pengurus besar Central Sarekat Islam. 

Kongres kedua Sarekat Islam diselenggarakan di Surakarta. Kongres menegaskan bahwa Sarekat Islam hanya untuk rakyat biasa, pegawai pamong praja tidak boleh menjadi anggota. Pegawai pangreh praja dilarang menjadi anggota karena dikhawatirkan mereka tidak akan berani menyuarakan aspirasi dan memperjuangkan nasib rakyat. Bahkan, bisa jadi mereka akan memata-matai kegiatan Sarekat Islam.

Karena bersifat kerakyatan, Sarekat Islam cepat mendapatkan anggota. Akibatnya, Gubernur Belanda A.W.F. Idenburg ragu dan khawatir terhadap Sarekat Islam, sehingga permohonan izin pengesahan Sarekat Islam ditolak. Oleh karena itu, Sarekat Islam menyiasati hal tersebut dengan mendirikan Central Sarekat Islam (CSI) di Surabaya yang diakui Belanda.

Setelah Central Sarekat Islam berhasil dibentuk di Surabaya (18 Maret 1916), SI segera mengadakan kongres ketiga di Bandung pada tanggal 17–24 Juni 1916. Kongres itu disebutnya sebagai Kongres Nasional Sarekat Islam dengan alasan sebagai berikut.

1) Kongres tersebut dihadiri oleh 80 cabang Sarekat Islam lokal di seluruh Indonesia. Jumlah anggota SI pada saat itu telah mencapai 800.000 orang.

2) Sarekat Islam bercita-cita menyatukan seluruh penduduk pribumi sebagai satu bangsa berdaulat. Kongres ini memang sengaja digunakan sebagai sarana unjuk kekuatan kesatuan umat Islam menuju kesatuan seluruh penduduk pribumi.

Pada tahun 1917, Sarekat Islam mengadakan kongres keempat di Batavia. Dalam kongres itu, SI kembali menegaskan tujuan pembentukan organisasinya, yaitu ingin memperoleh pemerintahan sendiri (kemerdekaan). Dalam kongres itu, SI juga mendesak agar pemerintah membentuk volksraad. Untuk itu, SI mencalonkan H.O.S. Cokroaminoto dan Abdul Muis sebagai wakil yang akan duduk dalam Volksraad.

Jumlah anggota SI terus meningkat, pada tahun 1919 telah mencapai 2.250.000 orang. Akan tetapi, sangat disayangkan karena sebelum kongres keempat Sarekat Islam dilaksanakan, organisasi itu telah tersusupi ideologi sosialis kiri yang dibawa oleh Semaun, Ketua Sarekat Islam lokal Semarang. Semaun sebenarnya adalah tokoh ISDV berhalauan Marxisme. Tujuannya menyusup ke dalam tubuh SI adalah untuk menyebarkan paham sosialis kiri yang sangat radikal.

Sehubungan dengan keadaan itu, pada tahun 1921 Central Sarekat Islam menerapkan disiplin organisasi dengan melarang anggotanya untuk merangkap menjadi anggota organisasi lain. Akibatnya, Semaun beserta pengikutnya dipecat dari Sarekat Islam. Pada tahun 1923 lewat kongresnya di Madiun (17–20 Februari 1923) Sarekat Islam mengubah namanya menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII). Sarekat Islam Merah pimpinan Semaun juga mengubah namanya menjadi Sarekat Rakyat yang kemudian bergabung dengan Partai Komunis Indonesia pada tahun 1923.

Demikianlah Materi Perkembangan Pergerakan Budi Utomo dan Sarikat Islam, selamat belajar. 

Pengertian Nilai dan Nilai Sosial

Pengertian Nilai dan Nilai Sosial

1. Pengertian nilai

Sebagai mahluk sosial manusia senantiasa melakukan interaksi. Pola interaksi manusia di setiap masyarakat berbeda sesuai dengan nilai dan norma yang mereka anut. Nilai dan norma menjadi tuntunan bagi setiap manusia dalam melakukan interaksi. Apakah yang dimaksud dengan nilai itu ?

Pengertian nilai berdasarkan Kamus Bahasa Indonesia: Nilai adalah, taksiran, sifat-sifat (hal-hal) penting yang dianggap penting atau yang berguna bagi kemanusiaan yang dapat mendorong manusia mancapai tujuannya. 
(KBBI, Edisi ke-2 hal 690)

Menurut Robert M.Z. Lawang, nilai adalah gambaran mengenai apa yang dinginkan, yang pantas, yang berharga, yang mempengaruhi prilaku sosial orang yang memiliki nilai itu.

http://www.sibarasok.net/2013/11/pengertian-nilai-dan-nilai-sosial.html

Dalam kenyataan sehari-hari, sangat sulit untuk mengetahui secara pasti nilai-nilai yang dimiliki oleh seseorang atau masyarakat. Dalam pengertian sosiologis nilai difahami adalah ukuran yang sangat penting dalam kehidupan manusia sebagai tuntunan pola perilaku setiap manusia di masyarakat. Nilai diyakini sebagai sesuatu yang dianggap benar dan baik, dan nilai juga menjadi batasan pembeda antara yang baik dan yang buruk, yang benar dan salah atau yang pantas dan tidak pantas.


Notonegoro, membagi nilai dalam 3 bagian yaitu:

a. Nilai material
Adalah segala sesuatu yang berguna bagi jasmani manusia.

b. Nilai vital
Adalah segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat mengadakan aktivitas atau kegiatan.

c. Nilai kerohanian
Adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan kebutuhan rohani manusia, seperti:

a). Nilai kebenaran, yaitu bersumber pada akal manusia (cipta)
b). Nilai keindahan, yaitu bersumber pada unsur perasaan (estetika)
c). Nilai moral, yaitu bersumber pada unsur kehendak (karsa)
d). Nilai keagamaan, yaitu bersumber pada ketuhanan.

Setiap manusia akan memiliki nilai sendiri-sendiri yang dianut dan diyakini berdasarkan perasaannya sendiri yang bersifat subjektif. Nilai ini dinamakan sebagai nilai individual. Sedangkan nilai-nilai yang dianut oleh manusia secara masal di masyarakat yang didasarkan pada pandangan dan ukuran orang banyak, dinamakan dengan nilai sosial.

Pengertian nilai sangat abstrak dan berbeda–beda berdasarkan pada objek kajiannya. Dalam sosiologi maka nilai yang akan dikaji adalah nilai sosial.

2. Pengertian nilai sosial

Segala sesuatu dalam kehidupan ini memiliki nilai, demikian juga di masyarakat terdapat nilai. Nilai yang dimiliki oleh masyarakat disebut dengan nilai sosial. Setiap masyarakat memiliki nilai sosial sebagai ciri identitas masyarakat tersebut. Nilai tersebut dianut, diyakini kebenarannya serta dijunjung tinggi keberadaannya. Dalam pandangan sosiologi, nilai dianggap sebagai bagian dari sistem sosial masyarakat.

Beberapa Ahli sosiologi mendefinisikan nilai sosial sebagai berikut:

a. Kimball Young
Nilai sosial adalah asumsi abstrak dan sering tidak disadari mengenai apa yang dianggap benar dan yang penting.

b. Woods
Nilai Sosial adalah petunjuk-petunjuk umum yang telah berlangsung lama yang mengarahkan tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari.

Pengertian nilai tidak ada batasannya karena nilai itu sendiri bersifat abstrak dan hanya bisa difahami oleh orang atau masyarakat yang menganut dan mengamalkan nilai sosial. Namun demikian, dari dua pengertian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa nilai sosial adalah Penghargaan yang diberikan masyarakat kepada sesuatu yang dianggap benar, baik luhur dan penting yang berguna secara nyata bagi menjaga kelangsungan hidup masyarakat.

Agar dapat memudahkan kita memahami tentang nilai sosial, maka dibawah terdapat ciri-ciri yang menunjuk pada pengertian nilai sosial. Nilai sosial memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

a. Nilai tercipta secara sosial bukan secara biologis ataupun bawaan lahir.
b. Nilai berlangsung secara terus menerus dari generasi ke generasi melalui berbagai macam proses sosial, seperti interaksi, difusi, akulturasi dan kontak sosial.
c. Nilai memberikan pengaruh yang berbeda-beda terhadap orang perorangan dan masyarakat.
d. Nilai melibatkan emosi dan perasaan.

Nilai sosial merupakan gambaran dan ciri masyarakat tersebut, karena nilai itu adalah data yang diambil dari pengalaman masyarakat sepanjang sejarah masyarakat tersebut. Sebagai contoh nilai gotong royong dan nilai musyawarah yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia. Nilai gotong royong dan nilai musyawarah itu menjadi identitas bangsa Indonesia.

Masyarakat Indonesia sangat menghargai nilai gotong royong dan nilai musyawarah ini, setiap anggota masyarakat mentaati dan menjaga agar nilai-nilai tersebut tidak hilang. Penghargaan yang mereka berikan terhadap nilai itulah yang disebut dengan nilai sosial.

Penghargaan suatu masyarakat terhadap sesuatu nilai tidak akan sama. Tergantung kepada fungsi nilai yang dapat diberikan kepada masyarakat dan kegunaan nilai yang akan dirasakan oleh masyarakat.

Perbedaan penghargaan ini terjadi karena sumber nilai di masyarakat berbeda-beda. Nilai sosial bersumber dari kebudayaan masyarakat itu sendiri. Sebagaimana telah dijelaskan bahwa nilai menjadi ciri dan identitas masyarakat. Nilai sosial berasal dari masyarakat itu sendiri sebagaimana masyarakat meyakini fungsi dan peranan nilai tersebut bagi masyarakatnya. Sumber nilai ini dinamakan sebagai sumber ekstrinsik.

Selain sumber ekstrinsik terdapat sumber intrinsik yaitu sumber nilai yang berasal dari harkat dan martabat manusia itu sendiri. Dalam diri manusia sebagai mahluk individu terdapat nilai-nilai yang harus dijunjung tinggi dan dihargai oleh manusia lainnya. Sumber instrinsik ini berdasarkan pada hak-hak azazi manusia yang diberikan oleh Tuhan YME serta mendapat jaminan oleh negara. Sebagai contoh, Perjuangan bangsa Indonesia melepaskan diri dari kolonialisme. Nilai perjuangan berasal dari harkat dan martabat bangsa Indonesia untuk mengambil kembali hak-hak asasi yang dirampas oleh bangsa penjajah.

Demikianlah Materi Pengertian Nilai dan Nilai Sosial, semoga bermanfaat.

Rangkuman Pengertian Ilmu Sosiologi

Rangkuman Pengertian Ilmu Sosiologi – Setelah mempelajari Ilmu Sosiologi secara umum tentu agak sulit untuk mengingatnya secara keseluruhan, berikut rangkuman nya :

1. Sebuah keluarga adalah contoh interaksi sosial yang paling kecil. Struktur sosial di kelurga terdiri atas bapak, ibu, anak dan anggota keluarga lainnya yang terikat oleh keturunan. Di keluarga terjadi interaksi dan komunikasi antar sesama anggota keluarga. Tujuan dari pada dilakukan interaksi adalah untuk mempertahankan nilai-nilai yang ada dalam keluarga juga tentunya untuk mempertahankan keluarga itu sendiri. Sama halnya di masyarakat, sebagai sebuah struktur sosial dan sebagai sebuah sistem masyarakat terdiri atas berbagai unsur di mana setiap unsurnya itu melakukan interaksi.

2. Masyarakat adalah objek kajian sosiologi. Sosiologi mempelajari hubungan timbal balik antara individu dengan individu, individu dengan kelompok dan kelompok yang ada di masyarakat. Setiap masyarakat memiliki pola interaksi yang berbeda-beda. Bahkan yang lebih menarik lagi setiap masyara-kat memiliki identitas diri yang dijungjung dan dipertahankan.

http://www.sibarasok.net/2013/11/rangkuman-pengertian-ilmu-sosiologi.html3. Sosiologi adalah ilmu yang khusus mengkaji masyarakat. Para sosiolog berperan memberikan gambaran realitas sosial yang dikaji secara ilmiah dengan metode-metode tertentu guna mendapatkan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan itu akan dimanfaatkan untuk membantu dalam menyelesaikan masalah-masalah sosial yang dihadapi oleh masyarakat

4. Secara ringkas konsep-konsep dasar sosiologi yang di masyarakat ialah:

a. Perubahan sosial

b. Ketertiban dan pengendalian sosial

c. Sosialisasi

d. Organisasi sosial

e. Mobilitas sosial

f. Masalah-masalah sosial.

5. Abad 20 sosiologi berkembang pesat di Amerika Serikat. Pada masa ini di Amerika Serikat tumbuh kota-kota besar, industri industri besar dan gelombang migrasi besar-besaran. Akibat dari pertumbuhan perkotaan ini menimbulkan gejolak dan perubahan sosial yang besar dan kompleks. Kondisi demikian menjadi kajian para ahli sosiologi untuk menemukan pendekatan baru, sehingga melahirkan sosiologi modern.

6. Istilah sosiologi banyak dibicarakan oleh para pemerhati sebagai bidang pengamatan yang baru sejak sekitar tahun 1830-1854. Auguste Comte (1798-1857) adalah seorang filsuf Perancis per-tama yang menggunakan istilah “Sosiologi” untuk menyebut ilmu pengetahuan tentang masyarakat. Comte memberi nama itu pada tahun 1839 dan diterbitkan dalam bukunya, Cours de la Philosovie Positive yang terkenal pada tahun 1942.

7. Orientasi masalah sosilogi adalah tinjauan masalah dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Masyarakat sebagai sebuah sistem kehidupan yang kompleks memiliki masalah– masalah yang kompleks pula

8. Sosiologi termasuk ilmu pengetahuan murni (pure-science) yaitu merupakan pencarian ilmu pengetahuan bukan pada praktis penggunaanya. Sosiologi juga merupakan ilmu terapan ( aplied-Science)

9. Metodologi penelitian membahas konsep teoritik berbagai metode, kelebihan dan kelemahannya yang digunakan dalam karya ilmiah. Seangkan Metode penelitian mengemukakan secara teknis tentang metode yang digunakan. Metodologi penelitian merupakan ilmu yang mempelajari tentang metodologi penelitian dan ilmu tentang alat untuk penelitian.
Glosarium

Kontak Sosial : Proses yang terjadi antar manusia dengan bersentuhan baik secara fisik atau verbal

Sosiolog : Suatu ilmu pengetahuan apabila sosiologi mengembangkan suatu kerangka pengetahuan yang tersusun dan teruji yang didasarkan pada penelitian ilmiah.

Sciences : Pengetahuan (knowledge) yang tersusun secara sistematis dengan menggunakan cara berfikir ilmiah berfikir ilmiah merupakan kegiatan berfikir yang memenuhi persyaratan tertentu.

Empiris : Berdasarkan observasi terhadap kenyataan dan tidak berdasarkan praduga.

Kumulatif : Teori-teori yang disusun berdasarkan teori-teori yang sudah ada atau memperbaiki, memperluas serta memperkuat teori-teori yang sudah lama.

Nonetis : Tidak mempersoalkan baik dan buruk, tetapi untuk memperjelas kajian/masalah secara lebih dalam, mengabaikan nilai yang dimiliki oleh data tersebut, baik atau buruknya, pantas atau tidaknya.

Studi Kepustakaan : Survei atas semua penelitian yang telah dilakukan mengenai masalah yang akan diteliti.

Hipotesis : Yaitu mengembangkan lebih lebih dari satu masalah yang akan diteliti Metode penelitian

kuantitatif : Merupakan metode yang menggunakan bahan keterangan dengan menggunakan angka-angka sehingga gejala yang diteliti dapat diukur dengan menggunakan skala, tabel, indeks dan formula yang semuanya menggunakan ilmu pasti.

Sociometry : Merupakan kumpulan konsep dan metode yang bertujuan untuk menggambarkan dan meneliti hubungan antar manusia dalam masyarakat secara kuantatif

Library Research : Suatu cara memperoleh data dengan mempelajari buku buku di perpustakaan yang merupakan hasil dari para peneliti terdahulu.

Keluarga : Merupakan kesatuan sosial yang dipersatukan oleh ikatan perkawinan darah, terdiri atas suami, istri dan anakanak.

Masyarakat : Sekelompok manusia yang permanen melakukan interaksi antar individu dengan individu, individu dengan kelompok atau kelompok dengan kelompok.

Komunitas : Satuan sosial yang didasari oleh lokalitas, mempunyai ikatan solidaritas yang kuat antar anggotanya sebagai akibat kesamaan tempat tinggal, memiliki perasaan membutuhkan satu sama lain, serta keyakinan tanah dimana tempat mereka tinggal memberikan kehidupan kepada mereka

Asosiasi : Suatu kehidupan bersama antar individu dalam suatu ikatan.

Small Group : kelompok yang terdiri sekurang-kurangnya dua orang, masing-masing menjalin hubungan untuk mencapai tujuan tertentu.

Klik (Clique) : Kelompok kecil yang terbentuk dari suatu kelompok yang lebih besar, karena frekuensi hubungan yang relatif tinggi atau sering bertemu.

Cressive Group : yaitu kelompok yang timbul karena reaksi spontan, terbentuk karena ketidaksengajaan, memiliki kepentingan yang sama dan tujuan yang sama, serta tempat tinggal yang berdekatan.

Demikianlah Rangkuman Pengertian Ilmu Sosiologi, semoga bermanfaat.

Perlawanan terhadap Kolonial Belanda (Pattimura, Padri, Diponegoro, Aceh, Sisingamangaraja, Antasari dan Patih Jelantik)

Perlawanan terhadap Kolonial Belanda (Pattimura, Padri, Diponegoro, Aceh, Sisingamangaraja, Antasari dan Patih Jelantik)
Tindakan Belanda yang sewenang-wenang dan monopolinya yang merugikan menyebabkan Pattimura berkewajiban membebaskan rakyat Saparua Maluku. Residen Van den Berg menolak membayar harga perahu menurut kesepakatan. 
Hal ini berakibat menambah kemarahan rakyat. Pattimura yang juga dikenal dengan nama Thomas Matulessi menyerbu benteng Duurstede dan berhasil menguasainya dan residen Van den Berg terbunuh. Penggantinya ialah Letkol Groot yang berpolitik licik serta berusaha memecah belah. Banyak pemimpin yang ditangkapnya sehingga kekuatan semakin lemah.
Maka dalam pertempuran selanjutnya, Pattimura beserta kawan-kawannya tertangkap dan pada tanggal 16 Desember 1817 Pattimura dijatuhi hukuman mati dengan cara digantung di benteng New Victoria. Perjuangannya dibantu Christina Martha Tiahahu.
Perlawanan terhadap Kolonial BelandaGerakan padri didirikan oleh tiga orang ulama, yakni Haji Miskin, Haji Piobang, dan Haji Sumanik sepulang dari Tanah Suci. Ketiga ulama tersebut sangat kecewa melihat kebiasaan masyarakat Minangkabau yang telah sangat jauh dari ajaran Islam. Usaha mereka untuk memengaruhi masyarakat mendapat perlawanan keras kaum adat hingga timbullah peperangan. Berikut sebab-sebab timbulnya perang.
a. Adanya perbedaan pendapat antara kaum ulama/padri dengan kaum adat. Kaum ulama terpengaruh gerakan wahabi menghendaki ajaran agama Islam berdasarkan al-quran dan Hadis.
b. Kaum ulama ingin memberantas kebiasan buruk yang dilakukan kaum adat, seperti berjudi, menyabung ayam, dan mabuk.
c. Perebutan pengaruh antara kaum adat dan kaum ulama.
Pertempuran semula terjadi pada tahun 1825 di Minangkabau antara kaum adat dan kaum ulama. Kaum ulama dipimpin oleh Imam Bonjol. Kaum adat kemudian minta bantuan Belanda. Namun Belanda sedang terdesak, akibat perang menghadapi Pangeran Diponegoro. Maka, Belanda mengajak berunding saja dan mengakui batas wilayah kekuasaan kaum padri.
Sesudah tahun 1830, Belanda mengobarkan perang antara kaum adat melawan kaum padri, dalam hal ini Belanda membantu kaum adat. Semula pertempuran itu terjadi, tetapi setelah kaum adat sadar akan bahaya Belanda, mereka bergabung dengan kaum padri melawan Belanda sejak tahun 1832. Belanda di bawah Van den Bosch menggunakan Sistem Benteng Stelsel dan dikirimlah bantuan di bawah pimpinan Sentot Ali Basa Prawirodirjo yang kemudian memihak kepada kaum padri. Sentot pun dibuang ke Cianjur. Kemudian Belanda menyerang kota Bonjol dan mengadakan Perjanjian Plakat Panjang (1833), yang isinya:
a. penduduk dibebaskan dari pembayaran pajak atau kerja rodi,
b. Belanda akan menjadi penengah jika timbul perselisihan antarpenduduk,
c. perdagangan dilakukan hanya dengan Belanda, dan
d. penduduk boleh mengatur pemerintahan sendiri.
Dengan siasat Benteng Stelsel, Belanda mengepung benteng Bonjol pada tanggal 25 Oktober 1937 sehingga Imam Bonjol tertangkap dan dibuang ke Cianjur. Pada tahun 1854, Imam Bonjol wafat di Manado.
Sejak awal abad ke-18 Belanda memperluas daerah kekuasaannya dan berhasil menguasai sebagian besar wilayah Mataram pada tahun 1812. Pengaruh Belanda mulai menyebar di kalangan istana dan mengancam kehidupan agama Islam. Sebagai salah seorang pemimpin negara dan pemuka agama, Pangeran Diponegoro tergerak untuk melakukan perlawanan.
a. Sebab-sebab umum
1) Rakyat menderita akibat pemerasan Belanda dengan menarik pajak.
2) Kaum bangsawan merasa dikurangi haknya, misalnya, tidak boleh menyewakan tanahnya.
3) Adanya campur tangan Belanda di istana, misalnya dalam pengangkatan sultan, mengubah tata cara istana, sajian sirih dihapus, dan orang Belanda duduk sejajar dengan sultan.
b. Sebab-sebab khusus
Pembuatan jalan melalui makam leluhur Pangeran Diponegoro tanpa seizin di Tegalrejo dianggap merupakan penghinaan sehingga Pangeran Diponegoro mengangkat senjata pada tanggal 20 Juli 1825.
c. Jalannya perang
Pembantu-pembantu Pangeran Diponegoro adalah Kiai Mojo, Sentot Ali Basa Prawirodirjo, dan Pangeran Mangkubumi. Pusat pergerakan ialah di Selarong. Sistem yang dipergunakannya adalah perang gerilya dan perang sabil.
Pangeran Diponegoro juga dianggap penyelamat negara dan seorang pemimpin yang besar sehingga mendapat julukan “Sultan Abdul Hamid Erucokro Amirulmukmin Syayidin Panotogomo Kalifatulah Tanah Jawa”. Pada saat itu, Belanda dipimpin Jenderal De Kock yang mempergunakan cara:
1) siasat Benteng Stelsel, di setiap daerah yang dikuasai didirikan benteng yang mempersempit gerilya Pangeran Diponegoro sehingga pasukannya terpecah-pecah;
2) mengangkat kembali Sultan Sepuh agar tidak dibenci oleh rakyat Mataram;
3) mempergunakan politik devide et impera.
Melihat sistem Belanda yang cukup berbahaya ini, Pangeran Diponegoro memindahkan markasnya ke Plered, Dekso, dan Pangasih. Daerah Pacitan dan Purwodadi juga berhasil dipertahankan. Serdadu Belanda terus digempur oleh pasukan Diponegoro sehingga 2.000 orang tentara Belanda tewas. Pada tahun 1828 – 1830 Pangeran Diponegoro menghadapi kesulitan-kesulitan berikut.
1) Tahun 1838 Kiai Mojo mengadakan perundingan dengan Belanda di Mangi, tetapi gagal. Kiai Mojo ditangkap dan diasingkan ke Minahasa dan tahun 1849 wafat lalu dimakamkan di Tondano.
2) Tahun 1839 Pangeran Mangkubumi menyerah karena sudah tua.
3) Tahun 1829 Sentot Prawirodirjo mengadakan perundingan dengan Belanda. Ia bersedia menyerah, asalkan menjadi pemimpin pasukan.
4) Tahun 1830 Pangeran Dipokusumo menyerahkan putra Pangeran Diponegoro.
Kenyataan tersebut tidak melemahkan Pangeran Diponegoro. Ia terus berjuang, bahkan Belanda sampai mengeluarkan sayembara: Apabila ada yang berhasil menyerahkan Pangeran Diponegoro akan mendapat uang 20.000 ringgit. Namun, tidak ada yang bersedia.
Akhirnya Belanda berhasil menangkap Pangeran Diponegoro pada tanggal 28 Maret 1830 dan dibawa ke Batavia dengan kapal “Pollaz”, terus diasingkan ke Manado. Pada tahun 1834 dipindahkan ke Makassar dan akhirnya wafat pada tanggal 8 Januari 1855. Perang Diponegoro yang panjang membawa akibat sebagai berikut.
1) Wilayah Mataram Yogyakarta dan Surakarta menjadi sempit, PB VI yang ikut melawan Belanda akhirnya dibunuh di Ambon (1830).
2) Belanda memperoleh daerah Surakarta – Yogyakarta sebagai daerah yang diperas kekayaannya.
3) Adanya sebagian cukai yang dihapus untuk mengurangi kerusuhan.
Perang Aceh meletus pada tahun 1873 ketika terjadi pertentangan kepentingan politik dan ekonomi antara Kesultanan Aceh dan pemerintah kolonial Belanda. Belanda sudah memiliki keinginan untuk menguasai Aceh sejak tahun 1824, saat itu Aceh terkenal sebagai penghasil separuh persediaan lada di dunia. Kesempatan diperoleh ketika Inggris membiarkan Belanda menguasai Aceh daripada jatuh ke tangan Amerika Serikat atau Prancis.
a. Sebab-sebab umum
1) Belanda melaksanakan Pax Nederlandica.
2) Aceh merupakan daerah yang strategis bagi pelayaran dan perdagangan yang menolak campur tangan Belanda.
3) Inggris tidak akan menghalangi jika Belanda memperluas daerah ke Sumatra.
b. Sebab khusus
Aceh menolak terhadap penguasaan Belanda atas Sumatera, walaupun secara sepihak Belanda telah mengeluarkan Traktat Sumatra (1871) (yang memberi hak Belanda dapat berkuasa di Sumatera). Untuk menghadapinya, Aceh bersahabat dengan Turki dan Amerika Serikat. 
Di Aceh terdapat dua kelompok pemimpin rakyat.
1) Golongan bangsawan yang berjiwa nasionalis (golongan teuku): Teuku Umar, Dawotsyah, Panglima Polim, Muda Bae’et, dan Teuku Leungbata.
2) Golongan ulama (golongan tengku) dipimpin Tengku Tjik Di Tiro.
c. Jalannya perang
1) Masa permulaan (1873-1884)
Belanda menyerang di bawah Kohler, tetapi Kohler sendiri tewas sehingga Belanda menarik pasukannya. Pimpinan pasukan diganti oleh Van Swietten yang berusaha membentuk pasukan jalan kaki (infateri), pasukan berkuda (kavaleri), dan pembangunan militer (genie). Semangat rakyat Aceh tidak kendor, bahkan Jenderal Van der Heyden tertembak sehingga buta (jenderal buta).
2) Masa konsentrasi stelsel (1884-1896)
Pada masa ini, Tengku Tjik Di Tiro gugur. Karena itu, Teuku Umar mengubah cara dengan berpura-pura menyerah kepada Belanda (tahun 1893). Belanda memberi penghargaan berupa uang $18.000, 800 senjata, 250 tentara, dan Teuku Umar diberi gelar Teuku Johan Pahlawan. Hal itu hanya merupakan siasat saja, Teuku Umar kembali menyerang Belanda bersama istrinya Tjoet Nja’Dien. Belanda merasa sulit menundukkan Aceh sehingga memanggil Dr. C. Snouck Hurgronje untuk meneliti budaya Aceh. Tersusunlah buku yang berjudul De Atjeher.
3) Masa akhir perlawanan (1896-1904)
Pada tahun 1899 di Meulaboh, Teuku Umar gugur. Perjuangannya dilanjutkan Tjoet Nja’ Dien yang terus bergerilya. Karena Aceh sudah tidak berdaya, Belanda mengeluarkan Plakat Pendek yang isinya:
a) Aceh mengakui kedaulatan Belanda di Sumatra,
b) Aceh tidak akan berhubungan dengan negara asing, dan
c) Aceh akan menaati perintah Belanda.
Sisingamangaraja XII melawan Belanda di daerah Tapanuli di tepi Danau Toba. Penyebab perlawanan ini adalah daerah Batak diperkecil oleh Belanda. Belanda melaksanakan Pax Nederlandica. Tahun 1878 Sisingamangaraja XII menyerang Belanda di Tarutung (tahun 1894). Belanda menyerang dan membakar daerah pusat kerajaan Tapanuli (1907). Sisingamangaraja XII gugur bersama putra-putrinya sehingga berakhirlah perjuangannya.
Pertempuran ini terjadi karena Belanda banyak campur tangan di istana, banyak perkebunan yang dikuasai Belanda, Belanda berusaha menguasai Kalimantan, dan disingkirkannya pewaris takhta, Pangeran Hidayatullah, membawa kemarahan rakyat yang terus berusaha melawan Belanda di bawah pimpinan Pangeran Antasari. Namun perlawanan ini tidak berlangsung lama, perjuangannya dilanjutkan oleh putranya yang bernama Muhamad Seman.
Patih Jelantik adalah patih Kerajaan Buleleng yang melawan Belanda. Sebab-sebab perlawanan sebagai berikut.
a. Hukum tawan karang adalah hak Raja Bali yang akan dihapus Belanda.
b. Raja harus melindungi perdagangan Belanda di Bali.
c. Belanda diizinkan mengibarkan bendera di Bali.
Adanya aturan-aturan yang ditetapkan Belanda tersebut membuat Raja Bali merasa diinjak-injak kekuasaannya oleh Belanda. Maka, dikobarkanlah perang anti-Belanda Jalannya perang sebagai berikut.
a. Perang Buleleng 1846
Ini terjadi karena Raja Buleleng merampas kapal Belanda sehingga terjadi pertempuran dan Buleleng jatuh ke tangan Belanda. Kemudian raja menyingkir ke benteng Jagaraga bersama Patih Jelantik.
b. Perang Jagaraga 1848
Dalam pertempuran ini, Patih Jelantik bertahan di benteng tersebut. Tetapi, akhirnya ada salah satu bagian yang berhasil dikuasai Belanda, namun Patih Jelantik tetap bertahan.
c. Perang Jagaraga II
Belanda dipimpin Michiels menyerang Kerajaan Klungkung. Jembrana, dan Buleleng sehingga benteng Jagaraga berhasil direbut Belanda. Para raja lari ke daerah selatan. Raja Karangasem dan Raja Buleleng akhirnya mengobarkan perang puputan. Kerajaan Tabanan mengadakan pertempuran tahun 1906 yang disebut Balikan Wongaya. Akhirnya, Bali dikuasai Belanda.
Demikianlah Materi Perlawanan terhadap Kolonial Belanda, Pattimura Padri Diponegoro Aceh Sisingamangaraja Antasari dan Patih Jelantik, semoga bermanfaat.

Perkembangan Sistem Pemerintahan Struktur Birokrasi dan Sistem Hukum pada Masa Kolonial

Perkembangan Sistem Pemerintahan Struktur Birokrasi dan Sistem Hukum pada Masa Kolonial

1. Sistem pemerintahan kolonial

Pemerintahan kolonial Belanda diawali dengan dibentuknya lembaga dagang VOC yang memiliki pengurus terdiri atas tujuh belas orang yang disebut De Heeren Zeventien (Dewan Tujuh Belas). Lembaga ini berpusat di negeri Belanda. Sebagai pelaksana harian di Indonesia, Dewan Tujuh Belas mengangkat gubernur jenderal yang didampingi Dewan Hindia. 

Dewan Hindia (Ideler) ini beranggotakan sembilan orang yang sebagian menjabat gubernur di daerah seperti Banten, Cirebon, dan Surabaya. Gubernur jenderal bersama Dewan Hindia mengemudikan pemerintahan VOC di Indonesia yang kekuasaannya tidak terbatas. Selain gubernur jenderal, diangkat pula seorang direktur jenderal yang bertugas mengurusi perniagaan serta mengurus perkapalan.

http://www.sibarasok.net/2013/11/Perkembangan-Sistem-Pemerintahan-Struktur-Birokrasi-dan-Sistem-Hukum-pada-Masa-Kolonial.html

Setelah VOC runtuh, Indonesia diperintah oleh Deandels, seorang yang pandai tetapi diktator. Ia membagi Pulau Jawa menjadi sembilan karisidenan yang dikepalai oleh seorang perfect. Ia juga mendirikan pengawas keuangan (Algemene Rekenkamer). Sikap otoriter Daendels menyebabkan banyak peperangan dengan raja-raja daerah serta keburukan pemerintahannya, sehingga ditarik kembali pulang ke negeri Belanda. Selanjutnya, Indonesia jatuh ke tangan Inggris di bawah Raffles yang memiliki kepribadian yang simpati dan liberalis. 


Dalam menjalankan pemerintahannya di Indonesia, Raffles didampingi oleh badan penasihat (advisory council). Adapun tindakan yang diambilnya adalah :

a. membagi Pulau Jawa menjadi 16 karesidenan, setiap karesidenan dibagi dalam distrik, setiap distrik terdapat divisi (kecamatan);
b. mengubah sistem pemerintahan yang semula dilakukan oleh penguasa pribumi menjadi sistem pemerintahan kolonial yang bercorak Barat;
c. para penguasa pribumi dan para bupati dijadikan pegawai kolonial dan digaji.

2. Struktur birokrasi kolonial

Dalam rangka politik Pax Nederlandica, Belanda banyak menggunakan tenaga pribumi yang mampu mengerjakan administrasi pemerintahan, yang memiliki keterampilan dan latihan kerja yang memadai dalam berbagai jenis kegiatan. Untuk memenuhi kebutuhan tenaga pribumi yang memiliki kemampuan dan keterampilan maka didirikan sekolah untuk mendapat pendidikan yang terampil dan berpengetahuan, agar nanti dapat dipekerjakan pada kantor-kantor milik pemerintah kolonial.

Pusat pemerintahan Belanda di Batavia membutuhkan banyak tenaga untuk melaksanakan tugas guna mengikat hubungan dengan daerah-daerah di seluruh wilayah Indonesia. Sementara itu, adanya perluasan hubungan antara pemerintah kolonial di Batavia dengan negeri induknya, serta dengan daerah-daerah di seluruh Nusantara, menuntut adanya desentralisasi hubungan. Pemikiran yang demikian akhirnya mendorong dibentuknya Volksraad pada tahun 1918 dengan tujuan agar hubungan dengan rakyat Indonesia semakin lebih baik.

3. Sistem hukum

Pada tahun 1838, di negeri Belanda telah diundangkan hukum dagang dan hukum perdata. Hal ini terdorong oleh adanya kegiatan perdagangan hasil bumi orang-orang Belanda dengan perantara pedagang Cina. Politik hukum pemerintahan kolonial Belanda dapat diperlihatkan dalam Pasal 131 Indische Staatsregeling yang menyangkut hukum orang-orang Indonesia. Dalam pasal tersebut diatur bahwa hukum perdata dan dagang serta hukum acara perdata dan pidana harus dimasukkan dalam kitab Undang-Undang. Golongan bangsa Eropa harus menganut perundang-undangan yang berlaku di negeri Belanda, sedangkan golongan bangsa Indonesia dan timur asing dapat dikenakan ketentuan hukum orang Eropa apabila dikehendaki.

Pada tahun 1855 sebagian dari kitab Undang-Undang Hukum Perdata telah memuat hukum kekayaan, begitu juga hukum dagang bagi orang-orang Cina. Selanjutnya, pemerintah kolonial Belanda dalam membentuk kitab undang-undang bagi orang Indonesia maka hukum adat selalu menjadi bahan pertimbangan hukum.

Menurut peraturan pemerintah kolonial 1854 dan peraturan Hindia Belanda 1925, bidang hukum dan peradilan Hindia Belanda dibagi atas dua bagian, yaitu pengadilan gubernemen dan pengadilan pribumi. Pengadilan gubernemen dilaksanakan oleh pemerintah kolonial melalui pegawai pemerintahan sesuai dengan aturan hukum, sedangkan pengadilan pribumi dilaksanakan berdasarkan hukum adat yang pada umumnya tidak tertulis.

Pada tahun 1819 didirikan Hoog Gerechtschof (Mahkamah Agung), yang kemudian memiliki kekuasaan untuk mengawasi pengadilan di Jawa. Pada tahun 1869, berdasarkan keputusan raja, para pegawai pamong praja dibebaskan dari pengadilan pribumi. Pada tahun 1918 berlaku hukum pidana Hindia Belanda yang didasarkan pada kitab Undang-Undang untuk pengadilan bagi orang Eropa dan pribumi tidak ada perbedaan hukum.

Demikianlah Materi Perkembangan Sistem Pemerintahan Struktur Birokrasi dan Sistem Hukum pada Masa Kolonial, semoga bermanfaat.

Alternatif Penyelesaian Permasalahan pada Diversitas Kebudayaan

Alternatif Penyelesaian Permasalahan pada Diversitas Kebudayaan -Indonesia terdiri dari ribuan pulau dan jumlah penduduk yang cukup besar. Jumlah kepulauan dan penduduk yang besar tersebut membawa budaya lokal yang beragam pula. 

Keragaman yang ada tersebut, tidak menutup kemungkinan bahwa friksi kecil maupun besar akan timbul di dalam kehidupan bermasyarakat. Telah kamu ketahui melalui penjelasan sebelumnya, bahwa budaya lokal tidak hanya berupa kekayaan yang berkaitan dengan seni, namun juga dapat berupa pola pikir, nilai tradisi, seperangkat aturan, hukum adat, dan lain sebagainya. Dengan demikian pola hidup bermasyarakat pada setiap daerah di Indonesia beragam adanya.

Indonesia adalah negara yang memiliki banyak kepulauan dan suku bangsa. Tidak mudah menjalani kehidupan pada lingkungan yang memiliki keragaman. Bagaimana seharusnya menyikapi hal ini? Dapatkah kamu hidup berdampingan dengan orang yang berasal dari daerah yang berbeda ? Pertanyaan tersebut patut dipertanyakan pada diri kita agar dapat menumbuhkan rasa toleran dan empati sosial kepada orang lain yang memiliki budaya lokal yang berbeda dengan diri kita.

http://www.sibarasok.net/2013/11/Alternatif-Penyelesaian-Permasalahan-pada-Diversitas-Kebudayaan.html

Apakah toleransi dan empati itu?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ”toleran” adalah bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakukan, dan sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa toleransi adalah suatu sifat memahami suatu perbedaan dengan cara menerimanya dengan baik. Contohnya adalah menerima dengan baik di dalam pergaulan, orang-orang yang menganut agama yang berbeda, orang-orang yang berbeda suku bangsa, dan lain-lain.

Adapun ”empati” adalah keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya di keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain. Jadi, apabila seorang mampu memahami perasaan dan pikiran orang lain, maka ia dapat dikatakan telah mampu berempati terhadap sesama.

Jika pada saat seseorang atau suatu keluarga atau sekelompok orang mengalami suatu musibah, pihak lain memiliki perasaan atau pikiran yang setidaknya sama dengan yang terkena musibah. Dengan keadaan yang demikian, pihak lain tersebut kemudian dengan tulus melakukan upaya menumbuhkan dukungan mental terhadap orang yang terkena musibah. Jika seseorang sedang mengalami kesedihan akibat salah satu anggotanya meninggal dunia, orang lain yang setidaknya turut merasakan rasa kehilangan tersebut, maka orang tersebut telah berempati terhadap musibah yang dialami orang yang tertimpa musibah tersebut. 

Dengan toleransi dan empati sosial yang terjaga dengan baik, maka persatuan dan kesatuan di negeri yang terdiri dari 18.000 pulau ini senantiasa dapat terpelihara.

Dengan demikian, diversitas budaya yang ada harus ditanggapi dengan positif. Keragaman budaya bukan suatu kekurangan, melainkan suatu kelebihan bangsa Indonesia. Tidak seluruh negara di dunia ini memiliki ragam budaya sebanyak Indonesia. Oleh karena itu, patut disyukuri bahwa Indonesia kaya akan kebudayaan.

Berkaitan dengan hal tersebut perlu sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya pemahaman dan pengertian yang cukup mendalam tentang keberagaman tersebut. Pemahaman dan pengertian yang cukup mendalam mengenai keberagaman tersebut dapat dilakukan oleh lembaga dan keluarga.

Lantas bagaimana peranan lembaga dan keluarga sebagai media sosialisasi?

a. Lembaga

Dalam rangka mensosialisasi akan pentingnya pemahaman keberagaman, peran lembaga sangat diperlukan. Dalam hal ini lembaga sebagai media sosialisasi lembaga-lembaga yang dimaksud tentunya berkaitan erat dengan masyarakat seperti lembaga agama, lembaga sosial, dan lembaga pendidikan.

1) Lembaga Agama

Peran rohaniwan sangat penting di dalam memberi pemahaman yang mendalam mengenai perbedaan dan persamaan yang ada di dalam kehidupan bermasyarakat. Pedoman agama adalah hal yang sangat penting untuk mengantisipasi adanya pertentangan budaya yang berbeda.

2) Lembaga Sosial

Lembaga sosial seperti perangkat desa hingga lini terbawah adalah salah satu sarana utama di dalam menyampaikan pesan kepada masyarakat akan pentingnya kebersamaan di dalam beragamnya cara pandang menjalani kehidupan.

3) Lembaga Pendidikan

Lembaga pendidikan dari tingkat dasar hingga yang tertinggi adalah sarana penting di dalam memberikan pengertian dasar mengenai perbedaan dan persamaan budaya yang ada di Indonesia. Pendidikan dini menjadi hal yang utama memberikan pengertian akan keragaman budaya yang ada di lingkungan hidup mereka dan cara menghormati keragaman tersebut.

Pendidikan dini di luar keluarga adalah sekolah. Guru sebagai pendidik memiliki tugas yang cukup berat membimbing anak didiknya agar menjadi manusia yang beradab. Oleh karena itu, untuk menghadapi beragamnya budaya yang ada di sekitarnya, guru perlu memberikan pengertian yang cukup dalam mengenai keragaman budaya, berikut cara menghargai keragaman tersebut.

b. Keluarga

Selain lembaga keluarga dan lingkungan pendidikan memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Kedua organisasi tersebut menjadi tonggak pendidikan awal seorang manusia. Orang tua sebagai pendidik di dalam keluarga perlu memasukkan ajaran mengenai keberagaman yang ada di lingkungan anak-anak tinggal. Tidak sebatas pengetahuan mengenai keragaman tersebut, namun perlu disertakan didikan cara menghormati dan menyayangi sesama. Diharapkan anak akan dapat memahami lebih dini, sehingga dapat menghargai arti persaudaraan antarsesama.

Demikianlah Materi Alternatif Penyelesaian Permasalahan pada Diversitas Kebudayaan, semoga bermanfaat.

Dampak Diversitas (Keragaman) Kebudayaan Ditengah Masyarakat

Dampak Diversitas (Keragaman) Kebudayaan Ditengah Masyarakat – Keragaman budaya yang ada pada suatu daerah memang dapat menjadi tonggak kekuatan sebagai aset yang tak ternilai harganya. Namun demikian, kebudayaan yang beragam dengan tata cara menjalani kehidupan yang berbeda-beda pula tidak menutup kemungkinan dapat menimbulkan pertentangan pemikiran hingga akhirnya menimbulkan friksi dan konflik.

Sebagai contoh, masyarakat Jawa Timur adalah masyarakat yang cenderung lebih terbuka dibandingkan masyarakat daerah Yogyakarta, sehingga pada saat kedua masyarakat ini saling berkomunikasi, dapat dimungkinkan terjadi suatu pertentangan budaya.

http://www.sibarasok.net/2013/11/Dampak-Diversitas-Keragaman-Kebudayaan-Ditengah-Masyarakat.html

Masyarakat Jawa Timur berbicara secara terus terang, namun masyarakat Yogyakarta berbicara dengan lebih banyak menggunakan kata bersayap atau kata yang tidak secara langsung mengacu pada makna yang sesungguhnya. Dengan demikian, masyarakat Yogyakarta akan lebih sering merasa tersinggung karena mendengar pembicaraan yang tanpa basa-basi. 


Sebaliknya, masyarakat Jawa Timur merasa bahwa masyarakat Yogya penuh basa-basi, tidak berbicara apa adanya atau tidak berterus terang, menyembunyikan sesuatu, dan yang dikatakannya belum tentu sesuai dengan hati nuraninya. Padahal menurut masyarakat Yogya, berkata dengan kata-kata bersayap dianggap sebagai cara berbicara yang lebih sopan. Demikian pula halnya dengan masyarakat Jawa Timur, berkata secara terus terang adalah hal yang lebih nyaman digunakan karena dapat mengetahui dengan cepat maksud inti pembicaraan.

Masyarakat Sumatra Utara terbiasa berbicara dengan tegas dan lugas, sedangkan masyarakat Jawa cenderung lebih halus dan pelan. Ketika kedua masyarakat ini bertemu, kemungkinan dapat terjadi friksi antarkeduanya karena perbedaan cara berbicara. Masyarakat Jawa dapat berpandangan bahwa masyarakat Sumatera Utara berbicara dalam keadaan marah, padahal sebenarnya tidak demikian halnya. Masyarakat Sumatera Utara hanya terbiasa dengan cara berbicara yang lugas.

Masyarakat Sunda terbiasa dengan makan menggunakan tangan sembari satu kaki dilipat naik ke atas, jadi ketika makan bersama di meja makan terkadang ada yang melipat dan menaikkan salah satu kakinya ke atas kursi. Jika hal ini tidak dipahami oleh masyarakat lain, maka orang tersebut dianggap tidak menghormati orang lain.

Budaya yang beragam tidak menutup kemungkinan memunculkan friksi atau konflik. Untuk itu diperlukan pemahaman dan pengenalan yang baik mengenai budaya lain agar tidak terjadi friksi yang kemudian menjadi konflik yang berkepanjangan.

Perbedaan-perbedaan tersebut tidak ada yang salah. Masyarakat tidak boleh memvonis suatu kesalahan kepada suatu kultur masyarakat tertentu. Dalam hal, ini tidak ada yang benar dan tidak salah, sebab memang demikianlah adanya sebuah kultur.

Namun demikian, perbedaan budaya antarmasyarakat dapat dengan mudah menimbulkan friksi ataupun konflik. Untuk itu perlu ditingkatkan pemahaman yang baik terhadap kultur di sekitarnya, berikut rasa pengertian dan tenggang rasa antarmanusia.

Demikianlah Materi Dampak Diversitas (Keragaman) Kebudayaan Ditengah Masyarakat, selamat belajar.

Potensi Diversitas ( Keragaman ) Kebudayaan

Potensi Diversitas ( Keragaman ) Kebudayaan – Muatan penting yang terdapat di dalam kebudayaan adalah cermin identitas manusia. Muatan tersebut mampu mengangkat harkat dan martabat manusia kepada strata tertentu, terutama pada lingkungan yang dikelilingi oleh budaya yang beragam. 

Jika kamu cermati, keberagaman budaya sesungguhnya adalah kekayaan yang tidak ternilai. Tidak seluruh negara di muka bumi ini memiliki kekayaan budaya seperti yang terdapat di Indonesia. Beraneka suku, beraneka bahasa, dan beraneka adat istiadat. Sungguh luar biasa.

Setiap wilayah memiliki ciri yang berbeda. Ada yang memiliki hanya satu budaya, ada pula yang memiliki beragam budaya. Misalnya Korea, negara Korea yang terletak di Semenanjung Korea hanya memiliki satu suku bangsa dan satu bahasa. Meski dipisah menjadi Korea Utara dan Korea Selatan, namun suku bangsa dan bahasa mereka hanya satu. 

http://www.sibarasok.net/2013/11/potensi-diversitas-keragaman-kebudayaan.html

Oleh karena itu, mereka disebut dengan monokultur. Berbeda halnya dengan Indonesia, negara ini memiliki ribuan pulau dan digabungkan dengan banyak lautan. Dengan demikian budaya dan bahasa pun bermacammacam. Hal ini yang disebut dengan polikultur.


Di Indonesia, meski berada dalam satu pulau, budaya dan bahasa pun dapat berbeda. Di Pulau Jawa, ada suku Sunda dan suku Jawa. Meski terbagi menjadi dua suku tersebut, Pulau Jawa memiliki bahasa yang berbeda-beda.

Di daerah Banten, meski termasuk daerah Sunda, namun ada suku pedalaman yakni Baduy Luar dan Baduy Dalam. Masyarakat Baduy Luar umumnya mengenakan pakaian serba hitam. Adapun suku Baduy Dalam mengenakan pakaian serba putih. Suku Baduy Luar cenderung masih dapat menerima pengaruh dari luar, tetapi suku Baduy Dalam tidak mau menerima pengaruh dari luar. Pendatang pun tidak begitu serta-merta dapat memasuki wilayah Baduy Dalam. Pendatang yang akan ke daerah Baduy Dalam tidak diperkenankan menggunakan kendaraan bermesin atau kendaraan yang dihela binatang berkaki empat. Masyarakat Baduy Dalam juga tidak menonton televisi atau mendengarkan radio.

Di daerah lain yakni di daerah Cirebon, ada sebagian wilayah yang menggunakan bahasa Sunda, ada yang menggunakan bahasa Jawa. Bahasa Jawa yang digunakan juga beragam. Bahasa Jawa di daerah Yogyakarta juga akan jauh berbeda dengan bahasa Jawa yang digunakan di daerah Jawa Timur. Contoh di atas hanyalah sedikit contoh budaya yang berbeda. Di Indonesia masih banyak lagi contoh keragaman budaya yang dimiliki.

Keragaman budaya sesungguhnya dapat memberikan nilai lebih. Suatu negara yang memiliki budaya yang beragam dapat membawa negara tersebut ke mancanegara. Kekayaan budaya yang beranekaragam dapat meningkatkan harkat dan martabat masyarakatnya di kancah dunia sebagai negara yang berbudaya tinggi.

Budaya yang beraneka ragam juga dapat menambah khazanah wawasan pemilik budaya lain, sehingga dapat memperkaya pola pikir yang telah dimiliki sebelumnya. Contohnya, terapi pengobatan tradisional di Papua dengan menggunakan buah naga akhirnya dapat menambah wawasan pengobatan masyarakat yang berada di luar daerah Papua.

Selain menjadi kekayaan negara, budaya yang dimiliki dapat menjadi sebuah kontrol sosial. Seperti halnya budaya, bahasa daerah yang bermacam-macam yang dimiliki oleh daerah-daerah di suatu negara, dapat menjadi kontrol sosial bagi masyarakatnya. Hal tersebut dapat diambil dari istilah yang berkaitan dengan budaya setempat. Contohnya pamali. Pamali yang berasal dari daerah Sunda, dapat menjadi kontrol sosial bagi masyarakat untuk tidak melakukan hal yang kurang baik. Hal yang serupa juga dapat dilihat dari bahasa Jawa ora ilok. Ora ilok dapat menjadi kontrol sosial masyarakat Jawa untuk tidak melakukan hal yang buruk.

Ada anggapan dalam kebudayaan Jawa bahwa seorang gadis yang duduk di tengah pintu itu ora ilok karena kelak dapat menjadi perawan tua. Sesungguhnya hal ini ada pesan di balik pesan bahwa duduk di bawah pintu akan menghalangi orang yang lalu lalang di pintu tersebut. Demikian halnya dengan memotong kuku pada malam hari ora ilok karena potongan kuku akan menjadi kunang-kunang betina.

Kunang-kunang betina akan dicari oleh kunang-kunang jantan yang berasal dari potongan kuku orang mati. Sebenarnya pesan tersembunyi di belakangnya adalah dilarang memotong kuku pada malam hari untuk menghindari kecelakaan pada saat memotong kuku. Masyarakat Jawa, khususnya orang Jogja tidak berkata secara langsung pada inti permasalahan, namun dibuat sedemikian rupa agar pesan yang disampaikan tidak menyinggung perasaan orang lain. Semakin kaya ragam budi daya yang melingkupi suatu entitas, maka akan semakin beragam sumbangan yang akan hadir pada entitas tersebut, dan akhirnya membentuk sebuah kebudayaan yang kaya.

Keragaman budaya sesungguhnya jika kamu cermati, dapat memberikan nilai lebih. Suatu negara yang memiliki budaya yang beragam dapat membawa negara tersebut ke mancanegara. Kekayaan budaya yang beraneka-ragam dapat meningkatkan harkat dan martabat masyarakatnya di kancah dunia sebagai negara yang berbudaya tinggi.

Budaya yang beraneka ragam dapat menambah khazanah wawasan pemilik budaya lain, sehingga dapat memperkaya pola pikir yang telah dimiliki sebelumnya. Contohnya, terapi pengobatan tradisional di Papua dengan menggunakan buah naga akhirnya dapat menambah wawasan pengobatan masyarakat yang berada di luar daerah Papua.

Bahasa daerah yang bermacam-macam yang dimiliki oleh daerah-daerah di suatu negara, dapat menjadi kontrol sosial bagi masyarakatnya. Hal tersebut dapat diambil dari istilah yang berkaitan dengan budaya setempat. Contohnya pamali. Pamali yang berasal dari daerah Sunda, dapat menjadi kontrol sosial bagi masyarakat Sunda untuk tidak melakukan hal yang kurang baik.

Dengan demikian, keragaman budaya dapat memberikan sumbangan atau masukan kepada kebudayaan lain untuk memperkaya khazanah budaya, dapat memperkenalkan kebudayaan ke dunia luar, mengangkat harkat dan martabat, juga dapat sebagai kontrol sosial.

Diversitas kebudayaan di Indonesia memiliki potensi yang baik bagi masyarakat Indonesia; di antaranya adalah

a. Memperkenalkan ke seluruh dunia sebagai bangsa yang berbudaya tinggi.
b. Meningkatkan harkat dan martabat.
c. Menambah khazanah kekayaan suku bangsa lain.
d. Menghimpun kekuatan kebudayaan nasional yang khas.
e. Kontrol sosial.
f. Penuntun etika.

Demikianlah Materi Potensi Diversitas ( Keragaman ) Kebudayaan, semoga bermanfaat